Tuesday, October 11, 2016

Travellingbie : Part 5 Hari 1 di Palembang - Sejarah Sungai Musi

"mbak bisa berenang?"
"bisa, tapi tenggelam." jawab saya
"hahaaa...kalau begitu, esoknya kita minta life jacket dari bapak ya."
"ok..."
Oooo...kalau tak dibagitau, naik sampan tak pakai lifejaket la biasanya๐Ÿ˜…
Mana ada orang lokal yang naik sampan pakai lifejaket๐Ÿ˜‚

Nak meredah sungai Musi hari ini, melalui bawah Jambatan Ampera untuk ke Pulau Kemaro. Satu satunya jalan ke sana adalah menggunakan pengangkutan air - sampan atau bot. Bagi yang phobia sungai atau laut yang tak berapa nak dalam, bersedialah! ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜…

Sungai Musi
- dengan panjang sungai sejauh 750km, sungai ini merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera dan membahagikan Palembang menjadi 2 bahagian dan Jambatan Ampera menjadi ikon Kota Palembang itu menghubungkan kedua dua bahagian. 

Sejak zaman Kerajaan Sriwijaya sehinggalah sekarang, sungai ini terkenal sebagai metod pengangkutan utama bagi masyarakat di sini. Di tepi Sungai Musi ini terdapat Pelabuhan Boom baru dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.
Menurut lagenda, pada zaman dahulu kala, hubungan lintas laut menjadi hubungan utama pedagang dan pada ketika itu perdagangan tidak memakai sistem jual beli, tetapi menggunakan sistem barter.
Menurut cerita, ada kelompok bajak laut berasal dari negeri China yang terdiri dari tiga perahu layar berlayar di Selat Bangka. Perompak itu dipimpin oleh seorang yang digelar Kapitan dan mereka tertarik ketika melalui muara Sungai Musi terutama sekali kerana kelebarannya. Kapitan mencari cari di dalam petan dan ternyata sungai itu belum ada namanya di peta.
Para perompak itu melihat banyak perahu besar dan tongkat datang dari hulu sarat dengan muatan hasil bumi dan mereka yakin di wilayah hulu merupakan daerah yang subur. Kumpulan Kapitan ini mulai membentuk kelompok-kelompok untuk menjelajak daerah daerah hulu.
Ada kelompok yang sampai di daerah dataran rendah Gunung Dempo dan mereka kagum melihat betapa suburnya tanah. Tanaman kopi, cengkih, kayu manis dan berbagai tanaman lagi.
Kelompok yang menjelajah Muara Enim (nama sekarang), juga kagum dengan hasil tanaman rempah-rempah dan batubara yang muncul di permukaan tanah.
Sementara itu, di daerah Ranai, kelompok yang menjelajah daerah tersebut kagum pula dengan hasil tembakau yang tumbuh di sana.

Macam macam saiz kapal ada di Sungai Musi ini :))
Kapitan pula tertarik dengan Wilayah Sumatera Selatan yang berpusat di Sungai Musi dan dia memutuskan untuk tinggal lama di Palembang. Dia memberi tanda melingkari daerah Sumatera Selatan di dalam peta dan berkata: "Kita sekarang berada di daerah ini. Ternyata daerah dan sungai ini belum ada namanya di peta. Sudah ku fikir fikirkan dan kita namakan daerah ini Mu Ci (dalam bahasa tua Cina Han, Mu Ci bermaksud Ayam Betina, dan Mu Ci adalah nama bagi Dewi Ayam Betina yang memberikan keuntungan kepada manusia).

Seorang perompak bertanya:
"Mengapakan tuan menamakan daerah ini Mu Ci?"

"Bukankah Mu Ci (Ayam Betina) adalah makhluk yang memberikan keuntungan buat manusia? Sekali bertelur belasan butir dann telur adalah sumber makanan dan rezeki. Daerah ini pun sangat subur. Luar biasa suburnya, ,hasil rempah ratus bermutu tinggi. Ada batubara, emas dan lain lain. Maka, daerah ini layak disebut Mu Ci kerana tanahnya demikian kaya raya memberi keuntungan bagi manusia."
"Kalian ingat, penduduk di daerah ini juga memiliki sifat yang baik yang dimiliki ayam. Kaum pria daerah ini ramah, mudah menerima orang asing, dapat bergaul dengan baik dan suka menolong. Akan tetapi jangan berbuat curang atau menipu mereka. Bukankah ada empat orang teman kita yang mati kerana ditusuk penduduk dengan pisau?"

Kapitan menyambung bicaranya:
"รtu salah teman kita sendiri, sudah saya perintahkan untuk berperangai baik di daerah ini dan seluruh penduduknya akan jadi sekutu kita dalam jangka panjang. Selain itu, wanita di daerah Mu Ci ini juga sangat baik, kulit mereka kuning seperti kita. Tetapi wajahnya tidak seperti orang Eropa dan tidak mirip kita. Kaum wanita daerah ini hebat dan mengagumkan. Mereka bekerja keras membantu suami. Tidak ubahnya seperti induk ayam betina. Bekerja keras mencari makanan untuk anak-anaknya. Mereka bisa lebih ganas dari helang sekalipun."
Setelah beratus tahun kemudian, Mu Ci berubah menjadi Musi

Allahu Taรกla A'lam
Sumber : dari pelbagai
Post a Comment

Most Popular