Monday, June 27, 2016

Muhasabah Diri: Perbetulkan Niat Bersedekah (Ramadhan Hari 22)

Ramadhan hari ke-22. Tinggal lebih kurang 8 hari sahaja lagi untuk kita mengejar kenikmatan berpuasa dan kelebihan beramal yang dilipatkali gandanya oleh Allah SWT. Rebutlah peluang keemasan ini untuk menambahkan sadaqah kita, menambah amal kita, memperbaiki bacaan Al-Quran kita, meningkatkan kefahaman kita terhadap Al-Quran, menyantuni Al-Quran setiap masa dan mudah-mudah selepas Ramadhan, tabiatnya berterusan sehingga Allah perkenankan ketemu di Ramadhan yang akan datang.

Dari Ali bin Abi Thalib r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Segeralah bersedekah, sesungguhnya musibah tidak dapat melintasi (mendahului) sedekah.” (Razin, Misykât). Ali berkata: "Pancinglah rezeki dengan sedekah." “Setiap awal pagi saat matahari terbit, Allah menurunkan dua malaikat ke bumi. Lalu salah satu berkata, ‘Ya Allah, berilah karunia orang yang menginfakkan hartanya. Ganti kepada orang yang membelanjakan hartanya karena Allah’. Malaikat yang satu berkata, ‘Ya Allah, binasakanlah orang-orang yang bakhil.” (Muttafaq ‘Alaih dari Abu Hurairah).

Saya tergerak hari untuk berbicara mengenai niat kita bersedekah. Ada yang bersedekah secara sembunyi sembunyi untuk menjaga hati dari perasaan riak dan 'ujub. Ada yang bersedekah secara terang terangan, untuk menggalakkan saudara saudara yang lain juga untuk bersedekah. Kedua duanya merupakan niat yang mulia dan semoga Allah terima semua amalan kebaikan kita walaupun niatnya perlbagai. Dan, ajaibnya sedeqah juga saya saksikan di hadapan mata. Alhamdulillah. Allah beri peluang untuk menambahkan keyakinan bahwa sadaqah itulah merupakan harta kita untuk bekalan di sana nanti.

Allah SWT berfirman yang bermaqsud:

”Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (pembayarannya oleh Allah) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (QS.Al-Hadid:18)

Di dalam diri manusia itu ada segumpal daging yang dinamakan hati.

Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Jika baik hatinya, maka baiklah pula seluruh jasadnya. Hati adalah perkara yang sangat susah untuk dijaga. Itulah hati manusia, kadang luarannya nampak baik, tapi hatinya belum tentu. Kadang luarannya nampak kasar, tetapi hatinya belum tentu juga. Hanya Allah SWT sahaja yang tahu apa yang ada di dalam hati setiap manusia, niat baik atau jahat, tujuan baik atau jahat dan sebagainya. 

"Letak jalan berfikir adalah di hati. Jika baik hatinya, maka baiklah jalannya, jika jahat hatinya, maka jahatlah jalannya."

Begitu jugalah dengan niat sadaqah. Kene tanya hati kita sendiri, apakah tujuan kita bersedekah. Adakah (1) untuk menunjuk nunjuk dan berlumba-lumba siapa yang lebih banyak sedekahnya, atau (2) kerana Allah SWT, atau (3) kerana berharap dosa dosa kita dihapuskan dengan sedekah, atau (4) kerna mahu umur yang panjang, atau (5) kerna mahu menghapuskan penyakit-penyakit di dalam tubuh badan kita, ataupun (6) kerna mahu hidup tenang dan bahagia atau (7) kerna mahu rezeki bertambah-tambah dengan lebih banyak? Niat bersedekah itu, hanya kita sendiri sahaja dan Allah swt sahaja yang tahu.

Sekiranya niat kita bersedekah menjurus kepada yang pertama, makanya haruslah kita memperbanyakkan istighfar dan memohon keampunan dari Allah SWT di atas niat kita itu.

Maka itu, sering sering lah kita memanjatkan doa yang sering Nabi SAW mohon dan minta kepada Allah SWT agar hati kita terus dijaga dalam kebaikan:

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sering berdo’a,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa do’a tersebut yang sering beliau baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab,

يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

“Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” (HR. Tirmidzi no. 3522. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

“Sesungguhnya sedekah seseorang walau hanya sesuap, akan dikembangbiakkan oleh-Nya seperti gunung, maka bersedekahlah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Allahul Musta'aan
Semoga Allah redha kita sebagai hamba-Nya
Semoga Allah tetapkan hati kita terus istiqamah di dalam membuat kebaikan
Semoga Jannatul Firdausi menunggu kita di sana, InsyaAllah.
Post a Comment

Most Popular